Showing posts with label Anatomi dan Fisiologi. Show all posts
Showing posts with label Anatomi dan Fisiologi. Show all posts

Thursday, April 21, 2022

Mengapa dekongestan oral dapat meningkatkan tekanan darah?

Mari kita membahas dekongestan oral yang paling umum di pasaran, yaitu Pseudoefedrin, obat ini dikontraindikasikan kepada beberapa orang dengan kondisi medis tertentu, salah satunya adalah penderita tekanan darah tinggi.

Berdasarkan suatu meta analysis mengenai pengaruh dari pseudoefedrin terhadap tekanan darah dan denyut jantung (heart rate) [1] didapatkan summary sebagai berikut :

Pseudoephedrine caused a small but significant increase in Sistolic Blood Pressure (SBP) (0.99, mm Hg; 95% CI, 0.08 to 1.90) and Heart Rate (HR) (2.83 beats/min; 95% CI, 2.0 to 3.6), with no effect on Diastolic Blood Pressure (DBP) (0.63 mm Hg, 95% CI, –0.10 to 1.35). The effect in patients with controlled hypertension demonstrated an SBP increase of similar magnitude (1.20 mm Hg; 95% CI, 0.56 to 1.84 mm Hg). Higher doses and immediate-release preparations were associated with greater BP increases.

Untuk mengetahui kenapa hal itu dapat terjadi, sebelumnya kita harus mengenal terlebih dahulu target yang dituju oleh obat ini.

SISTEM SARAF OTONOM

Tubuh kita memiliki dua jenis sistem saraf, yaitu sistem saraf somatik [2] yang bisa kita kendalikan secara penuh, serta sistem saraf otonom [3]yang tidak memerlukan intervensi kita untuk mengontrolnya.

Untuk mengaktifkan atau menonaktifkan suatu mekanisme dalam tubuh, sistem saraf ini dikontrol oleh berbagai macam neurotransmitter [4], yaitu senyawa kimia yang berfungsi menyampaikan pesan antar sel.

Agar pesan yang dibawa olehnya dapat tersampaikan, neurotransmitter ini harus membentuk ikatan dengan suatu molekul (umumnya protein) yang disebut reseptor, [5] ikatan antar neurotransmitter dengan reseptor ini bersifat spesifik, tidak sembarangan neurotransmitter dapat berikatan dengan semua reseptor.

SIstem saraf otonom kemudian dapat dibagi kembali menjadi dua jenis berdasarkan neurotransmitter yang mengaktifkannya, yaitu sistem saraf simpatik serta sistem saraf parasimpatik.

Sumber gambar : In Vitro SSP Studies on Autonomic Nervous System

Pseudoefedrin dapat memberikan efek pada sistem saraf simpatik, yang memberikan respon terhadap neurotransmitter adrenalin (disebut juga dengan epinefrin). [6] Untuk penjelasan lebih lanjut mengenai adrenalin dan mekanisme kerjanya, silakan kunjungi jawaban dari David Christianto Yohanes berikut ini yah (Jawaban David Christianto Yohanes untuk Bagaimana adrenalin bisa bekerja secara cepat?).

MEKANISME KERJA PSEUDOEFEDRIN

Sistem saraf simpatik memiliki beberapa jenis reseptor, disebut dengan reseptor alpha dan beta, berikut adalah klasifikasinya :

Sumber gambar : Adrenergic Receptors as Pharmacological Targets for Neuroinflammation and Neurodegeneration in Parkinson’s Disease | IntechOpen

Mekanisme kerja pseudoefedrin termasuk dalam golongan agen simpatomimetik, yaitu suatu golongan obat yang bekerja dengan cara meniru efek dari neurotransmitter alami tubuh, [7] dalam hal ini adrenalin.

Reseptor yang dapat dipengaruhi oleh pseudoefedrin diantaranya adalah sebagai berikut :

Dari informasi di atas dapat diketahui bahwa pseudoefedrin dapat mempengaruhi reseptor Alpha dan Beta Adrenergik, walaupun affinitasnya pada reseptor Beta lebih rendah (partial agonist).

Berdasarkan informasi reseptor mana saja yang dipengaruhi oleh pseudoefedrin, mekanisme kerja pseudoefedrin sebagai dekongestan oral adalah sebagai berikut :

- Mengaktifkan reseptor Alpha-1 → Menyebabkan Vasokonstriksi → Dengan menyempitnya pembuluh darah, maka jumlah aliran darah yang melalui hidung dan tenggorokan akan berkurang, sehingga mengurangi peradangan pada membran nasal yang menyebabkan gejala hidung tersumbat.

Akan tetapi, vasokontriksi yang disebabkan pseudoefedrin tidak hanya terjadi pada rongga hidung dan saluran pernafasan, karena reseptor Alpha-1 tersebar di berbagai otot polos di seluruh tubuh, maka pembuluh darah lain juga dapat terpengaruh. Inilah sebabnya pseudoefedrin dikontraindikasikan pada penderita hipertensi.

- Mengaktifkan reseptor Beta-2 → Menyebabkan Bronkodilatasi (pelebaran diameter saluran pernafasan) yang pada akhirnya memberikan rasa lega pada saat bernafas.

Akan tetapi, pseudoefedrin juga dapat menstimulasi reseptor Beta-1 yang menyebabkan peningkatan denyut jantung (heart rate) sehingga muncul perasaan berdebar di dada, inilah sebabnya pseudoefedrin juga dikontraindikasikan kepada penderita gangguan irama jantung (aritmia).

Jawaban dari pertanyaan.

Hipertensi yang disebakan oleh oleh dekongestan oral terjadi akibat mekanisme kerjanya terhadap reseptor adrenergik, yaitu menyempitkan pembuluh darah dan meningkatkan denyut jantung.

Tambahan

Sampai sini, kita paham bahwa reseptor beta-1 dan beta-2 memiliki mekanisme kerja yang berlawanan (antagonis), oleh karena itu pada umumnya obat - obatan asma akan dikontraindikasian dengan obat - obatan antihipertensi dan sebaliknya, kecuali untuk obat yang didesain selektif, seperti Obat golongan Penghambat Beta-1 Selektif (Cth: Atenolol, Nebivolol, dan Bisoprolol) [8] yang tidak akan atau memiliki efek yang minimal terhadap reseptor Beta-2, serta Obat golongan Penghambat Beta-2 Selektif [9](Cth: Albuterol, Salmeterol, Formoterol) yang lebih aman bagi penderita asma yang juga mengalami gangguan kardiovaskular.

Semoga membantu, apabila ada rekan yang hendak mengoreksi saya persilakan yah.

Catatan Kaki

Mengapa obat tetes mata tertentu membuat terasa pahit di kerongkongan?

Biasanya sih, tetes mata antibiotik yang dapat menyebabkan rasa pahit di kerongkongan, walaupun tidak menutup kemungkinan tetes mata dengan kandungan lain juga dapat menyebabkan hal tersebut.

Hal ini disebabkan karena adanya saluran yang menghubungkan rongga mata, hidung, dan mulut.

Pernah kan, kalau kita sedang pilek, atau sedang jalan - jalan di pegunungan, hidung kita mampet atau pendengaran kita berkurang? Untuk menormalkannya, kita coba menutup hidung dan menghembuskan nafas, malah terasa seperti ada udara keluar dari sekitar mata 😂

Sebenarnya, pada umumnya rasa pahit yang terasa setelah menggunakan tetes mata tertentu itu normal dan tidak berbahaya, terlalu sedikit obat yang mungkin terserap dan berefek ke seluruh tubuh.

Akan tetapi jika dirasa tidak nyaman, coba untuk menekan bagian atas hidung seperti pada ilustrasi di atas sebelum meneteskan obat tetes mata, seharusnya jalur tersebut akan tertutup, mencegah sebagian kecil obat untuk melewatinya, sehingga dapat mengurangi rasa pahit yang mungkin akan terasa.

Sunday, October 6, 2019

Apa yang terjadi jika darah manusia terlalu asam atau terlalu basa?

pH darah manusia normal adalah 7.4 plus minus 0.5, angka ini diatur dengan ketat oleh sistem dapar (buffer) yang akan mengkompensasi penyimpangan - penyimpangan yang dapat mempengaruhi nilai pH.
Nah, apabila terjadi gangguan pada sistem buffer ini, pH darah mungkin akan turun lebih rendah dari 7.35, kondisi itu disebut Asidemia, sementara serangkaian mekanisme yang menyebabkannya disebut Asidosis.
Sama halnya jika pH darah lebih dari 7.45, situasi ini disebut Alkalemia, dan serangkaian mekanisme yang menyebabkannya disebut Alkalosis.
Sumber gambar : [1]
Acidosis
Kondisi dimana pH darah turun dari keadaan normal, dikelompokkan menjadi :
—asidosis metabolik
Kondisi ini paling sering terjadi akibat mengonsumsi senyawa yang dapat dipecah (dimetabolisme) menjadi senyawa yang bersifat asam, diantaranya adalah alkohol maupun pengonsumsian obat seperti aspirin dalam dosis tinggi.
Asidosis metabolik juga dapat terjadi sebagai komplikasi penyakit tertentu, seperti gagal ginjal maupun diabetes (akibat tubuh menggunakan asam lemak untuk menghasilkan energi).
Selain itu, kehilangan banyak ion bikarbonat yang menyebabkan pH darah turun juga dapat terjadi akibat diare akut.
—asidosis respiratorik
Gangguan pernafasan yang menyebabkan karbon dioksida tidak dapat dikeluarkan dengan lancar merupakan penyebab utama kondisi ini, pasien dengan gangguan paru seperti penyakit obstruktif paru kronis, pneumonia, maupun asma memiliki resiko yang paling besar.
Alkalosis
Sebaliknya, alkalosis terjadi saat derajat keasaman darah naik dari nilai normal.
Alkalosis juga dapat dibagi menjadi :
—alkalosis metabolik
Terjadi akibat kekurangan asupan kalium/potassium (hipokalemia), muntah/diarea yang terus menerus, penggunaan obat diuretik/pelancar buang air kecil yang berlebihan, penderita maag kronis yang sering menggunakan antasida, dan lain sebagainya).
—alkalosis respiratorik
Saat kadar karbon dioksida dalam darah menurun, contohnya akibat gangguan kecemasan yang meningkatkan seseorang bernafas dengan lebih cepat.
Lalu apa yang akan terjadi jika pH darah kita turun/naik dari kondisi normal?
Yaaaaa lumayan, paling enteng sih cuma pusing atau lemas, kalau yang lumayan parah sih bisa sampai terjadi gangguan irama jantung (aritmia).
Catatan Kaki

Apakah sel darah merah dan sel darah putih sama-sama mengalir di pembuluh darah?

Iya donk, memangnya mau mengalir dimana lagi ( ̄▽ ̄)
Ehtapi ada beberapa momen dimana sel darah putih (leukosit) ini mulai berjiwa petualang.
Sumber gambar : Anatomy and Physiology
Seperti yang dijelaskan pada gambar diatas, leukosit akan keluar dari pembuluh darah (ekstravasasi) apabila terjadi kerusakan jaringan yang menyebabkan infeksi.
Pergerakan sel darah putih ini disebut dengan chemotaxis, dan diperantarai oleh suatu substansi yang disebut dengan chemotactic factor. [1]
Hal yang terjadi dapat diibaratkan sel - sel yang terinfeksi mengirimkan sinyal untuk meminta bantuan, agar benda asing yang masuk tidak semakin banyak dan menyebabkan infeksi semakin parah.
Substansi yang bertindak sebagai chemotactic factor bisa berupa senyawa yang diproduksi oleh tubuh sendiri (endogen) seperti interleukin 5 atau 8, maupun senyawa asing (eksogen) seperti bakteri maupun toksin yang dihasilkan olehnya. [2]
Tapi ini hal yang normal kok, tidak perlu khawatir.
Terima kasih atas PJ nya mas Bagus Prasojo.
Catatan Kaki

Bagaimana penjelasan ilmiah tentang tubuh seseorang yang alergi/tidak alergi terhadap sesuatu?

Alergi, merupakan suatu reaksi berlebihan (hipersensitifitas) dari sistem kekebalan tubuh, kepada molekul yang dalam keadaan normal, sebenarnya tidak terlalu berbahaya, reaksi ini diperantarai oleh suatu Antibodi spesifik, yaitu Immunoglobulin E.
#1. Proses Produksi Antibodi
Tahapan produksi Antibodi spesifik diawali saat suatu molekul asing (antigen) dipresentasikan oleh sel penyaji antigen (antigen presenting cell), yang dapat berupa sel dendritik, makrofag, maupun sel lain.
Proses penyajian antigen ini, diawali dengan proses internalisasi antigen dalam proses fagositosis, untuk kemudian diproses menjadi potongan - potongan antigen dan dipresentasikan pada permukaan sel sebagai protein MHC class II. [1]
Protein MHC class II ini kemudian akan diikat oleh sel Limfosit T, lebih tepatnya sel T yang telah berdiferensiasi menjadi sel T CD4 (T Helper naïve ). [2]
Ikatan antara sel T Helper naïve dengan protein MHC class II spesifik ini menyebabkan sel T Helper teraktivasi dan mengalami pembelahan (proliferasi) serta pematangan (diferensiasi) membentuk satu set sel efektor, salah satunya adalah sel T Helper 2 (Th2).
Oke, sampai disini kita memiliki sel T Helper yang sudah teraktivasi dan sel Th2 yah.
Cerita selanjutnya adalah tentang sel Limfosit B
Suatu Antigen yang masuk ke dalam tubuh kita, dapat berinteraksi dan terikat dengan sel B naïve, hal ini disebabkan sel B sebenarnya juga memiliki kemampuan sebagai sel penyaji antigen dan dapat memproduksi protein MHC class II pada permukaannya.
Protein MHC class II yang terdapat pada permukaan sel B akan dikenali oleh sel T Helper yang telah diaktivasi oleh Antigen yang sama dan membentuk ikatan dengan bantuan molekul CD4 yang dimilikinya, proses ini disebut dengan linked recognition.
Setelah melalui tahapan linked recognition, sel Th2 baru akan memainkan peranannya, dengan memproduksi sitokin (contohnya Interleukin-4) yang akan mengaktivasi sel B naïve menjadi sel plasma yang dapat menghasilkan Antibodi.
Seperti yang saya tuliskan pada paragraf awal, reaksi hipersensitifitas yang menyebabkan alergi diperantarai oleh Immunoglobulin E, suatu jenis Antibodi yang secara normal memiliki jumlah paling kecil dalam tubuh manusia.
Proses produksi Immunoglobulin E dipengaruhi oleh sel T Helper karena harus melalui tahapan Immunoglobulin Class Switching. Tanpa peranan sel T Helper yang sudah teraktivasi (T cell independent antibody secretion), sel B naïve hanya dapat memproduksi IgM dan IgD.
Sumber gambar : B Cells and Antibodies
Antibodi IgE yang dihasilkan oleh sel plasma ini kemudian akan mengaktivasi proses produksi molekul histamine, serotonin, dan leukotriene sebagai mediator reaksi alergi.
#2. Mekanisme Inflamasi
Monmaap, saya sepertinya menyarankan dirimu untuk menonton Anime Cells at Work! (はたらく細胞 Hataraku Saibō) episode 5 untuk memahami bagian ini dengan lebih asyik (¯▿¯)
Beberapa snapshot.
Nah, sekarang lah saatnya menjawab pertanyaan utama.
Mengapa ada orang yang alergi atau tidak alergi terhadap suatu bahan?
Jawabannya adalah karena Antibodi memiliki ikatan yang spesifik hanya terhadap Antigen tertentu.
Seseorang bisa saja alergi terhadap serbuk sari karena dalam hidupnya dia pernah mengembangkan Antibodi yang dapat mengikat serbuk sari (Alergen). Sementara itu, orang lain bisa saja alergi terhadap seafood karena memiliki Antibodi yang dapat mengikat Alergen dalam seafood.
Antibodi dalam tubuh kita tidak hanya berada dalam kondisi terikat pada sel (membran bound) tetapi sebagiannya juga berada pada kondisi terlarut dan terbawa pada peredaran darah (soluble).
Antibodi yang terlarut ini kemudian akan terikat dengan suatu reseptor spesifik pada permukaan sel efektor suatu respon akut terhadap alergen, seperti sel mast dan basofil.
Sel efektor yang tercoating dengan Antibodi memiliki sensitifitas yang lebih besar dibandingkan sel efektor yang tidak tercoating. Inilah yang menyebabkan seseorang alergi/tidak alergi terhadap suatu substansi, karena bergantung seberapa banyak sel yang sensitif terhadap alergen. [3][4]
Sebenarnya ada banyak sekali faktor yang mungkin mempengaruhi, tetapi sepertinya saya hanya bisa memberikan sedikit contoh.

Oh yah, sekadar sedikit tambahan
Sesak nafas akibat memakan kacang - kacangan sebenarnya bukan reaksi alergi biasa, hal tersebut mungkin (berarti tidak selalu) merupakan tanda akan terjadinya kondisi yang lebih berbahaya, disebut dengan anafilaksis.
Anafilaksis itu sendiri adalah suatu kondisi medis yang berbahaya, memiliki onset (durasi sejak terpapar faktor penyebab hingga muncul suatu reaksi) cepat dan berpotensi fatal sampai menyebabkan kematian, yang disebabkan suatu alergen tertentu.
Gejala
Ada beberapa gejala yang menandakan sebuah alergi berpotensi menyebabkan reaksi anafilaksis, diantaranya:
— gatal pada kulit akibat ruam, maupun gatal dan timbul warna kemerahan pada mata akibat reaksi inflamasi/peradangan.
— pembengkakan bagian tubuh tertentu, seperti pada bibir atau kelopak mata.
— gangguan pencernaan seperti diare, rasa penuh di perut, atau mual.
— menurunnya tekanan darah, ditandai dengan memucatnya kulit sampai timbul rasa pusing pada kepala. Akibat diameter pembuluh darah yang melebar (vasodilatasi).
— menurunnya suplai udara ke paru - paru, ditandai dengan kesulitan bernafas. Akibat diameter saluran pernafasan yang menyempit (bronkokonstriksi).
Jika dirimu atau rekanmu mengalami gejala yang serupa, langkah yang paling tepat adalah segera pergi ke rumah sakit untuk diberi suntikan Adrenaline.
Terima kasih sudah berkenan membaca ( ̄ω ̄)
Catatan Kaki