Monday, May 6, 2019

Jika seorang pasien diberikan obat yang diminum tiga kali dalam satu hari, bagaimana caranya agar obat tersebut tetap dapat dikonsumsi secara efektif selama bulan Ramadan?

Mengonsumsi obat di bulan puasa memang bisa menjadi suatu hal yang menyulitkan, ̶k̶e̶c̶u̶a̶l̶i̶ ̶k̶a̶l̶a̶u̶ ̶k̶i̶t̶a̶ ̶p̶u̶a̶s̶a̶ ̶s̶e̶t̶e̶n̶g̶a̶h̶ ̶h̶a̶r̶i̶.
Menurut saya, orang sakit sebaiknya membatalkan saja puasanya dan fokus kepada pengobatan.
Tetapi bagaimana jika obat yang dikonsumsi merupakan obat yang harus dikonsumsi secara rutin untuk menjaga kondisi tubuh tetap baik? Seperti obat antidiabetes, obat hiperlipidemia (kolesterol), atau obat penurun tekanan darah tinggi?
Yuk kita bahas ヽ( ・∀・)ノ

Kita beruntung tinggal di Indonesia, waktu puasanya tidak terlalu lama, cukup 10 - 11 jam. Selama periode itu tentu saja kita tidak akan bisa mengonsumsi obat melalui mulut yang ditelan, atau puasa kita akan batal.
Sebenarnya, ada beberapa bentuk sediaan obat yang masih diperbolehkan untuk digunakan saat puasa[1]
Contohnya :
  • Obat yang digunakan pada kulit seperti salep, gel, krim, atau plester,
  • Obat yang digunakan dengan diselipkan dibawah lidah (sublingual) seperti Isosorbid Dinitrat untuk penderita Angina.
  • Obat yang digunakan dengan suntikan, baik itu melalui pembuluh darah, otot, atau dibawah kulit, kecuali nutrisi parenteral seperti infus dekstrose atau NaCl.
  • Obat tetes mata, hidung, dan telinga.
  • Obat kumur, asal jangan ditelan.
  • Obat asma berbentuk inhaler.
  • Pemberian gas oksigen maupun pembiusan.
  • Suppositoria maupun Ovula.
Jika selama bulan Ramadan kebetulan kita diresepkan obat yang harus diminum dua kali dalam sehari, tidak ada masalah. Bisa diminum saat sahur dan saat berbuka, usahakan saja jarak antara keduanya adalah kurang lebih 12 jam.
Sementara itu, hal yang perlu diperhatikan adalah, obat yang diminum satu kali dalam sehari, harus selalu diminum pada jam yang sama. Jika terapi dimulai saat berbuka, maka dosis selanjutnya adalah saat berbuka juga, jangan mengonsumsi dosis selanjutnya saat sahur.
Nah itu kan kalau satu atau dua ̶p̶i̶l̶i̶h̶ ̶a̶k̶u̶ ̶a̶t̶a̶u̶ ̶d̶i̶a̶ , kalau diresepkannya untuk diminum tiga kali dalam sehari bagaimana?
Pertama, daku mau mengingatkan, jangan sekali - sekali mengonsumsi obat sekaligus. Misalnya kamu diberikan suatu Antibiotik yang harus diminum tiga kali dalam sehari, jangan yang dua diminum saat sahur dan yang satu sisanya diminum saat berbuka yah? Bisi klenger nanti. 
Selanjutnya, kamu bisa kok berkonsultasi dengan Apoteker atau Dokter yang meresepkan. Nanti mereka akan memilihkan rencana pengobatan yang paling aman dan efektif untukmu, menggunakan alternatif sediaan lepas lambat atau obat yang memiliki waktu paruh eliminasi (T 1/2) yang panjang.
Contohnya, untuk kamu yang menderita tekanan darah tinggi konstan ̶a̶k̶i̶b̶a̶t̶ ̶m̶e̶n̶y̶a̶k̶s̶i̶k̶a̶n̶ ̶e̶n̶d̶i̶n̶g̶ ̶y̶a̶n̶g̶ ̶k̶u̶r̶a̶n̶g̶ ̶m̶e̶n̶y̶e̶n̶a̶n̶g̶k̶a̶n̶ ̶d̶i̶ ̶A̶v̶e̶n̶g̶e̶r̶s̶:̶ ̶E̶n̶d̶ ̶G̶a̶m̶e̶ mungkin akan diresepkan lisinopril [2] yang cukup diminum satu kali dalam sehari, bukan captopril [3] yang harus diminum tiga kali dalam sehari.
Contoh lagi, kamu mungkin akan diresepkan Rhinos SR untuk meredakan gejala flu yang muncul, dan cukup diminum satu kali dalam sehari, ndak lucu kan kalau kita jadi tidak puasa cuma karena pilek.
Untuk contoh lainnya, tanyakan sendiri ke Apoteker atau Dokter kepercayaanmu yah?

Tambahan, untuk obat yang dikonsumsi sebelum makan, sebaiknya segera diminum setelah berbuka dengan air putih. Setelah itu bisa ditinggal ibadah dulu selama 20 - 30 menit, baru kemudian dilanjutkan dengan makan yang berat - berat. Jangan lupa ya, sembunyikan dahulu beberapa potong gorengan dan kue - kue basyah, keburu habis :p
Lalu, untuk obat yang diminum sesudah makan, minum obatnya kira - kira 5 - 10 menit setelah makan besar.
Terima kasih sudah berkenan membaca, semoga bermanfaat.
Catatan Kaki

Mengapa cacing tanah banyak digunakan sebagai obat alternatif untuk menyembuhkan demam tifoid?


Pernahkah kamu mengalami demam tifoid? Belum? Ah masa’ sih? Bagaimana kalau pertanyaannya daku ganti dengan pernahkah kamu mengalami tipes?
Kalau jawabannya tetap belum, saya yakin kamu tidak diberikan uang jajan oleh orang tuamu saat sekolah dulu.

Demam tifoid merupakan salah satu selebritinya penyakit menular di negara +62 tercinta kita ini [1] dan memerlukan penanganan serius, tidak menutup kemungkinan demam tifoid yang tidak diobati dapat menyebabkan kematian.
Sebenarnya sudah ada sih tatalaksana pengobatan demam tifoid yang akan diberikan oleh Dokter baik hati yang mengobati kamu.
Tetapi pernahkah kamu disuruh orang tuamu, kerabatmu, atau temanmu untuk meminum air rebusan cacing tanah untuk membantu menyembuhkanmu dari demam tifoid?
Tidak seperti mitos bahwa jus jambu biji dapat meningkatkan kadar trombosit pada penderita demam berdarah dengue, ternyata penggunaan ekstrak cacing tanah [2] memang dapat membantu menyembuhkan demam tifoid.
Ingat kata kuncinya, membantu. Jadi itu Antibiotik tetap harus dihabiskan ya!
Lalu apa sih sebenarnya yang terdapat pada cacing tanah sehingga dapat membantu membunuh bakteri Salmonella Typhi penyebab demam tifoid?

Cacing tanah yang paling mudah ditemukan di Indonesia (Lumbricus Rubellus) memiliki kadar protein cukup tinggi, yaitu 63.06% pada ekstrak kering.
Lalu dengan kadar protein setinggi itu apakah ada protein dalam cacing tanah yang memiliki aktivitas antibakteri yang tinggi?
Ternyata tidak juga.
Lumbricin, [3]merupakan protein yang diduga memiliki aktivitas antibakteri pada cacing tanah, akan tetapi suatu penelitian yang dilakukan oleh Septianda dkk. dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga menunjukkan bahwa ekstrak cacing tanah sampai konsentrasi 3200 mg/mL tidak memiliki aktivitas untuk menghambat Salmonella Typhi. [4] Hmmmmm mungkin si bakteri sudah bermutasi sehingga semakin sulit untuk dibunuh.
Maka para peneliti mencari jawaban lain.
Kerusakan jaringan yang diakibatkan oleh bakteri Salmonella Typhi terjadi karena peningkatan kadar radikal bebas sehingga menimbulkan ketidakseimbangan kadar radikal bebas dengan antioksidan dalam tubuh. Radikal bebas ini akan mencuri elektron dari molekul - molekul biokimia tubuh kita, menyebabkan kematian jaringan yang dapat berakibat fatal.
Cacing tanah Lumbricus Rubellus diketahui memiliki kandungan antioksidan tinggi (247.3 mg/L senyawa fenolik dalam ekstrak etanol 80%).
Nah, tingginya kadar antioksidan dalam cacing tanah ini diduga dapat membantu mencegah proses apoptosis (kematian sel) yang tidak normal akibat radikal bebas. 
Hal ini dibuktikan dengan suatu penelitian, bahwa pemberian ekstrak cacing tanah pada hewan percobaan yang diinfeksi Salmonella Typhi, dapat menyebabkan penurunan kadar Malondialdehid (MDA) dan 8-hidroksi-2′-deoksiguanosin, yang merupakan senyawa marker (penanda) terjadinya stres oksidatif pada jaringan tubuh. [5]

Jadi jawabannya, mungkin saja ekstrak cacing tanah dapat membantu menyembuhkan demam tifoid. Akan tetapi mencegah tetap lebih baik dari mengobati bukan? Jagalah kebersihan diri, lingkungan, dan makanan agar terhindar dari penyakit menular. Berhati - hatilah saat membeli takjil untuk berbuka puasa esok hari.
Terima kasih!
Catatan Kaki

Adakah ramuan herbal yang dapat dengan cepat meningkatkan trombosit pada penderita demam berdarah dengue (DBD)?

Kalau kartu e-money merupakan tiket untuk kita keluar dari gerbang tol, maka naiknya kadar trombosit/platelet/keping darah merupakan salah satu tiket untuk kita pulang dari rumah sakit saat kita mengalami demam berdarah dengue.
Trombositopenia (terjadinya penurunan kadar trombosit dalam plasma darah dibawah nilai normal) merupakan suatu kondisi yang dapat disebabkan oleh banyak hal, diantaranya adalah penggunaan obat - obatan tertentu, konsumsi alkohol yang berlebihan, maupun akibat suatu penyakit seperti leukemia, anemia, dan infeksi virus. [1]
Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini dapat menyebabkan pendarahan yang terjadi tidak dapat berhenti. Manifestasi klinis yang dapat muncul diantaranya adalah muncul bercak kemerahan pada kulit akibat darah yang bocor dari pembuluh darah perifer, keluarnya darah dari gusi maupun hidung, sampai timbulnya darah pada urin dan feses. Bukan tidak mungkin trombositopenia dapat menyebabkan kematian akibat pendarahan pada organ internal.


Infeksi virus dengue (DENV) merupakan salah satu penyebab terjadinya penurunan kadar trombosit pada plasma darah. [2] Hal ini terjadi karena ….. emmm karena.
Karena mekanisme yang belum jelas (´ ∀ ` *)
Salah satu teori mengatakan bahwa DENV dapat menyebabkan penghambatan pada sel sumsum tulang yang bertanggung jawab untuk memproduksi sel - sel darah [3] dengan mencegah proses pematangan sel. [4]
Teori lain mengatakan bahwa menurunnya jumlah trombosit pada penderita demam berdarah dengue adalah akibat meningkatnya aktivitas apoptosis pada trombosit yang disebabkan oleh antibodi tertentu. [5] [6]
Yaaaaa mau bagaimana pun mekanismenya, intinya ini adalah suatu hal yang berbahaya dan harus segera ditangani.
Terdapat beberapa hal yang menjadi standar tata laksana pemulihan dari trombositopenia, diantaranya:
  • Mengeliminasi penyebabnya, apabila penyebabnya adalah infeksi virus maka diberikan obat antiviral. Jika penyebabnya adalah karena pengobatan tertentu seperti heparin, aspirin, atau antibiotik golongan sulfa, maka harus dicari alternatif pengobatan lain.
  • Transfusi darah dan terapi suportif
  • Pemberian obat penekan sistem imun, apabila trombositopenia disebabkan oleh sistem imun yang terlalu kuat.
  • Dan beberapa alternatif lain seperti operasi limpa maupun therapeutic plasma exchange (TPE) [7]

Jadi? Apakah ada makanan atau minuman yang dapat dikonsumsi untuk meningkatkan produksi trombosit? Padahal sebenarnya pasien DBD di rumah sakit itu umumnya hanya dipantau saja, agar tidak terjadi komplikasi yang berbahaya.
Jawaban dari pertanyaan ini adalah, mungkin saja ada. Tetapi boleh jadi trombosit kamu meningkat setelah mengonsumsi makanan tertentu hanya karena memang sudah saatnya meningkat.
Salah satu bahan yang telah lama sekali dipercaya dapat meningkatkan kadar trombosit, yaitu ekstrak beras yang difermentasi dengan ragi merah (monascus purpureus) [8] atau yang lebih dikenal dengan nama angkak. [9]


Mekanisme kerja angkak untuk meningkatkan jumlah trombosit diduga melalui aktivitas untuk menghambat rangkaian mekanisme peradangan [10] dan meningkatkan haematopoiesis (proses pembentukan dan pematangan sel darah). [11][12] Suatu rangkaian penelitian yang dilakukan oleh Dr. Erwin Astha Triyono Sp.PD dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dengan single-blinded, randomized clinical trial (evidence level moderate) [13] menunjukkan bahwa angkak dapat meningkatkan faktor yang mendukung proses hematopoiesis, walaupun dengan nilai yang tidak signifikan secara statistik.
Selain angkak, ternyata ekstrak daun pepaya ternyata telah terbukti secara signifikan dapat meningkatkan kadar trombosit berdasarkan jurnal berikut ini:
Selain itu, saya mendapat informasi dari seorang kolega mengenai suatu obat herbal terstandar yang diproduksi oleh Dexa Medica. [14] Produk ini mengandung ekstrak daun jambu biji (bukan jus buah). Sayangnya karena statusnya masih sebagai obat herbal terstandar, sejauh yang saya cari belum ada pembuktian secara klinis pada manusia mengenai efektifitas dan keamanannya.
Tetapi, tetap belum ada bahan yang memiliki status sebagai obat untuk meningkatkan kadar trombosit, apapun yang tersedia di pasaran sampai saat ini masih berupa folk medicine dan hanya bertujuan untuk membantu pemulihan bukan mengobati.
Saya tetap berpendapat bahwa lebih baik menginap di RS saja jika memang jumlah trombosit terlalu rendah dan tidak memaksakan pulang, kemudian hanya mengandalkan suplemen dengan harapan jumlah trombosit akan meningkat.
Terima kasih sudah berkenan membaca. 
Catatan Kaki

Wednesday, May 1, 2019

Apakah makanan yang sudah dikerubungi semut masih aman untuk dikonsumsi?

Jawaban dikembalikan kepada kondisi kesehatan pribadi kamu sendiri, terutama apakah ada riwayat alergi [1] yang disebabkan oleh semut.
Akan tetapi, percayakah kalau daku bilang semut itu sebenarnya higienis?

Seumur hidupnya semut tinggal dalam koloni, yang bisa terdiri dari ribuan ekor individu dan saling berdesak - desakan didalam sebuah sarang.
Kita semua tahu bahwa pada umumnya semut tinggal dan membuat sarang pada tanah. Semut juga senang berkeliaran pada daun - daun yang rontok dan membusuk, sisa makanan, sampai sisa makhluk hidup lainnya, tempat yang banyak sekali mengandung bakteri. [2]
Apabila semut mudah terinfeksi bakteri patogen, tentunya keberlangsungan koloni akan terancam. Satu ekor saja semut yang terinfeksi akan menyebarkan penyakit ke seluruh teman - temannya. [3]
Untuk mengatasi ancaman ini, serangga yang hidup dalam koloni mengembangkan berbagai macam metode agar bakteri dan parasit tidak mudah menyerang dirinya. Salah satunya adalah dengan memproduksi zat antimikroba. [4]
Suatu hal yang menarik adalah, semakin besar koloni suatu serangga, maka akan semakin kuat pula aktivitas antimikroba yang dihasilkan olehnya. [5]
Sifat dari semut yang sangat kekeluargaan juga mendukung hal ini, apabila teman kita mengalami sakit menular, katakanlah cacar, tentu kita tidak akan mau bermain dengannya bukan? Semut tidak begitu.
Mereka akan membersihkan temannya yang terserang mikroorganisme, tidak meninggalkan dia sendiri untuk mati karena infeksi. [6]
Jadi, kalau saya pribadi sih akan tetap memakan makanan yang dikerubungi semut, usir saja dengan meletakkan setengah sendok gula di sebelah makanan tersebut.
Ini hanyalah opini kok, apabila ada yang jijik dengan makanan yang telah dikerubungi semut, dibuang pun tidak apa - apa.
Catatan Kaki